PENDAHULUAN
1000 Hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan periode yang paling penting pada kehidupan seorang anak, dimulai sejak terbentuknya janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Periode ini sering disebut sebagai "periode emas" karena pertumbuhan dan perkembangan anak sangat pesat. Pada periode ini perlu mendapatkan perhatian khusus untuk memastikan tumbuh kembang anak optimal. Bila terjadi masalah, seperti ibu hamil mengalami anemia, kurang energi kronis (KEK), kehamilan dengan resiko tinggi, bayi tidak mendapatkan ASI, masalah pemberian makan, infeksi berulang yang disebabkan oleh permasalahan sanitasi maka beresiko anak menjadi Stunting
DEFINISI
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan. Dampaknya bisa bersifat permanen terhadap fisik, kecerdasan, dan produktifitas anak di masa depan.
CIRI-CIRI STUNTING
Menurut Kemenkes (2017), ciri utama stunting adalah tubuh pendek dibawah rata-rata. Selain tubuh yang berperawakan pendek dari anak seusianya, ada juga ciri-ciri lainnya yaitu:
Tanda pubertas terlambat
Performa buruk pada tes perhatian dan memori belajar
Pertumbuhan gigi terlambat
Usia 8-10 tahun anak menjadi lebih pendiam
Tidak banyak melakukan kontak mata
Pertumbuhan terlambat
Wajah tampak lebih muda dari usianya.
FAKTOR RESIKO STUNTING
Terdapat 2 faktor resiko dalam keluarga yang dapat melahirkan anak dengan stunting yaitu :
Faktor Resiko Spesifik : merupakan faktor resiko yang memengaruhi stunting secara langsung seperti status gizi balita, anemia pada calon pengantin, kekurangan energi protein pada ibu hamil
Faktor Resiko Sensitif : merupakan faktor resiko yang tidak secara langsung memengaruhi stunting seperti tidak tersedianya akses air bersih dan sanitasi yang layak, kemiskinan, pendidikan ibu rendah, dan lainnya)
DAMPAK STUNTING
Dampak yang terjadi akibat stunting dibagi menjadi dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang.
Dampak jangka pendek, yaitu peningkatan kejadian kesakitan dan kematian, perkembangan kognitif, motorik dan verbal pada anak tidak optimal, peningkatan biaya kesehatan.
Dampak jangka panjang, yaitu postur tubuh yang tidak optimal saat dewasa (lebih pendek bila dibandingkan pada umumnya), meningkatnya risiko obesitas dan penyakit lainnya, menurunnya kesehatan reproduksi, kapasitas belajar dan performa yang kurang optimal, produktivitas dan kapasitas kerja yang tidak optimal.
PENCEGAHAN STUNTING
Pemenuhan kebutuhan zat gizi ibu hamil.
Asi Eksklusif sampai dengan usia 6 bulan dan dilanjutkan dengan pemberian makanan pendamping ASI yang cukup jumlah dan berkualitas
Memantau pertumbuhan dan perkembangan balita di Posyandu sebagai deteksi dini terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Selain itu pemberian imunisasi sesuai jadwal untuk mencegah penyakit PD3I (Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti Hepatitis, TBC, Difteri, Tetanus, Pertusis, Polio, Pneumonia, Meningitis, Campak dan Rubella).
Meningkatkan akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi serta menjaga kebersihan
Edukasi Gizi tentang pentingnya gizi seimbang kepada ibu hamil, ibu menyusui dan keluarga.
Meningkatkan Peran Keluarga dalam mendukung ibu hamil dan menyusui, serta dalam memenuhi kebutuhan gizi anak.
Dengan upaya pencegahan yang komprehensif, stunting dapat diminimalisir sehingga anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik secara fisik maupun kognitif.
Referensi :
Modjo, Dewi. Piola WS. Mantovani Zidan, (2024). Evaluasi program imunisasi dan gizi terintegritas dengan kejadian stunting pada anak usia 2-5 tahun di Puskesmas Batudaa. Universitas Muhammadiyah Gorontalo.
Kemenkes RI (2022). Keluarga Bebas Stunting. Infodatin Kemenkes RI
Kemenkes RI (2022). Pedoman Pelaksanaan SDIDTK di Tingkat Pelayanan Dasar. Direktorat Kesehatan Masyarakat Kemenkes RI