JURNAL REFLEKTIF
Doubt/Difference
Apakah ada perbedaan dampak paparan cahaya secara terus menerus atau paparan cahaya redup terhadap kualitas tidur bayi prematur?
Description
Pada minggu kedua saat saya shift malam dan sore di Ruang NICU sebuah rumah sakit pendidikan tipe A di Jakarta, saya melihat perawat mematikan lampu dan menutup inkubator di ruangan SCN 1 dan 2 tetapi tetap membiarkan lampu menyala di ruangan NICU dan bayi hanya dipakaikan penutup mata. Hal ini menimbulkan pertanyaan pada diri saya, apakah ada perbedaan paparan cahaya secara terus menerus pada bayi prematur dan pengaturan cahaya redup atau siklus siang dan malam terhadap kualitas tidur bayi prematur.
Dissection
Berdasarkan yang saya pahami dan ketahui bahwa paparan cahaya yang terus menerus dapat menurunkan kualitas tidur manusia. Cahaya yang terang dapat menghambat pengeluaran hormon melatonin atau disebut juga hormon tidur yang berfungsi untuk mengatur siklus sirkadian manusia, mengatur tekanan darah, suhu tubuh. Hormon ini berespon terhadap cahaya, sehingga kadarnya rendah di siang hari dan meningkat pada malam hari saat suasana gelap. Pada bayi terutama bayi prematur sangat penting untuk menjaga kualitas tidurnya, hal ini disebabkan pada saat tidur perkembangan sel-sel terutama sel saraf berkembang dengan pesat, selain itu pada saat tidur metabolisme tubuh menjadi rendah sehingga energi dapat digunakan untuk menambah berat badan bayi prematur.
Discover
Prevalensi bayi prematur di Indonesia termasuk tinggi, menempati urutan ke-5 di dunia sekitar 657.700 kelahiran prematur setiap tahun. Angka ini diperkirakan mencapai 10,2% dari total kelahiran di Indonesia, beberapa daerah mencapai 17%. (Rachmantiawan, A. & Rodiani (2022). Dari hampir 3,8 juta bayi yang lahir di Amerika Serikat pada tahun 2018, 8,3% memiliki berat badan lahir rendah (yaitu, berat badan <2500 g) dan 10% lahir prematur (yaitu, usia kehamilan <37 minggu). Sepuluh hingga lima belas persen bayi (sekitar 500.000 per tahun), termasuk bayi berat badan lahir rendah dan prematur serta bayi lainnya dengan kelainan kongenital, infeksi perinatal, dan penyakit lainnya, memerlukan perawatan di NICU.
Bayi prematur atau bayi yang lahir sebelum usia 37 minggu, cenderung memiliki kebutuhan yang berbeda dengan bayi yang lahir cukup bulan. Otak dan tubuh bayi prematur akan membutuhkan lebih banyak waktu untuk berkembang. Kualitas tidur bayi mempunyai pengaruh yang penting dalam perkembangan dan pertumbuhan bayi prematur karena tidur merupakan kebutuhan fisiologis manusia yang krusial, berperan penting dalam pematangan sistem saraf pusat, konsolidasi memori, sekresi hormon pertumbuhan, melatonin, dehidroepiandrosteron (berfungsi untuk meningkatkan kekuatan otot dan kepadatan tulang, meredakan depresi), penyimpanan energi, dan produksi protein meningkat dan pemecahannya berkurang selama tidur tenang, yang meningkatkan regenerasi, penyembuhan fungsi tubuh dan pemulihan dari penyakit. Gangguan tidur dapat berdampak negatif pada luaran klinis, pertumbuhan, dan perkembangan, serta dapat menunda pemulangan dari rumah sakit. Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa kualitas tidur sangat penting bagi perkembangan otak dan plastisitas sinaptik, serta berkaitan dengan luaran perkembangan saraf jangka panjang. Karena itu penting untuk menjaga kualitas tubuh bayi. (Jinhee Park, 2020).
Bayi prematur di NICU terpapar stimulus berbahaya yang seringkali mengganggu dan memperpendek periode tidur mereka. Salah satu paparan berbahaya adalah cahaya. Di dalam kandungan Janin berkembang dalam lingkungan Dim Light (DL) alami dengan kondisi ritme sirkadian yang optimal, dan memasuki lingkungan day/night cycle light (CL) setelah keluar dari rumah sakit. Lingkungan NICU seharusnya menjadi periode transisi antara kedua mode cahaya ini Paparan cahaya yang tidak tepat dapat mengubah ritme sirkadian bayi prematur, dengan dampak negatif pada tidur, aktivitas, perkembangan sistem saraf pusat, dan kesehatan jangka panjang mereka. Oleh karena itu, bayi prematur perlu mendapatkan perawatan yang tepat untuk mendorong pertumbuhan, memperpendek lama rawat inap (LOS), dan mengurangi biaya medis.
Sebuah tinjauan sistematis yang dilakukan oleh Ho. C.L (2025) menyelidiki efek paparan cahaya siklus siang/malam (day/night cycle light) (CL) terhadap penambahan berat badan dan lama tinggal di Rumah Sakit (LOS) pada bayi prematur. Dalam tinjauan ini juga membandingkan pencahayaan yang digunakan di NICU meliputi cahaya redup (dim light) (DL) yang dapat didefinisikan sebagai paparan 24 jam terhadap cahaya redup yang tidak teratur, kondisi hampir gelap. Cahaya terang terus-menerus (continuous bright light) (CBL) didefinisikan sebagai paparan 24 jam terhadap cahaya kontinyu atau kondisi cahaya ruangan normal. Dan cahaya siklus siang/malam (day/night cycled light) (CL) didefinisikan sebagai paparan cahaya selama 12 jam pada siang hari dan paparan kegelapan selama 12 jam pada malam hari.
Dari tinjauan sistematis ini ditemukan bahwa Dim Light (DL) atau cahaya redup mungkin memiliki efek berbahaya pada retina, yang mengonsumsi lebih banyak oksigen dalam kondisi gelap dibandingkan kondisi terang. Bayi baru lahir yang terpapar DL mengalami penurunan denyut jantung dan pernapasan serta tekanan darah sistolik dan diastolik yang lebih rendah pada hari pertama dan kedua setelah lahir. Bayi yang terpapar CBL dilaporkan bahwa nilai Lux yang lebih tinggi dari 50 dapat menyebabkan peningkatan denyut jantung dan pernapasan serta saturasi oksigen serebral regional pada bayi prematur.
Temuan meta-analisis ini melaporkan bahwa bayi yang terpapar CL menghabiskan lebih sedikit hari menggunakan ventilator, memulai pemberian makanan oral lebih cepat, dan memiliki asupan kalori lebih tinggi dibandingkan bayi yang tidak terpapar CL, dibandingkan dengan bayi prematur yang terpapar CBL, bayi yang terpapar CL memiliki denyut jantung rata-rata yang lebih stabil sejak hari ke-3 setelah lahir. Beberapa penelitian juga menemukan perbedaan yang signifikan dalam penambahan berat badan antara kelompok CL dan DL (masing-masing 263±52 vs. 232±48 g;P=.02). Selain itu melaporkan perbedaan signifikan antara kelompok CL dan CBL (masing-masing 29,17±7,32 vs. 14,63±5,64 g/hari);P<.000001) dalam pertambahan berat badan harian sejak hari ke-9 setelah lahir hingga keluar dari rumah sakit. Temuan meta-analisis ini mengungkapkan bahwa bayi yang terpapar CL sejak usia kehamilan 32 minggu menunjukkan pertambahan berat badan yang lebih besar (122±149 g) dibandingkan bayi yang terpapar CL sejak lahir (117±138 g) atau usia kehamilan 36 minggu (93±112 g). Retinopati prematuritas mempengaruhi bayi prematur yang lahir sebelum usia kehamilan 31 minggu. Oleh karena itu, untuk mendorong penambahan berat badan, paparan CL dapat diterapkan pada usia kehamilan 32 minggu PMA atau setelah bayi mendapatkan kembali berat badan lahirnya.
Temuan meta-analisis ini mengungkapkan LOS secara signifikan lebih pendek pada bayi yang terpapar CL dibandingkan pada mereka yang terpapar DL atau CBL, dan bahwa CL memiliki pengaruh yang lebih positif pada penambahan berat badan juga. Kelompok CL menunjukkan peningkatan berat badan yang signifikan dan peningkatan kadar melatonin. Dalam salah satu studi tersebut, kelompok CL menunjukkan penurunan kadar melatonin saliva di siang hari dan peningkatan di malam hari sejak hari ke-5 setelah lahir (P<.0001), sedangkan pada kelompok CL lainnya, terdapat perbedaan yang signifikan (P<.0001) antara rata-rata tingkat melatonin siang hari dan malam hari sejak hari ke-6 setelah lahir.
Oleh karena itu, semakin besar kenaikan berat badan akibat paparan CL, semakin baik fungsi fisik bayi dan semakin mudah memenuhi standar pemulangan, yang dapat memperpendek LOS bagi bayi prematur dan mengurangi biaya medis bagi keluarga mereka.
Decision
Berdasarkan discover dapat disimpulkan bahwa
1. Menjaga irama sirkardian pada bayi menunjukkan bukti positif untuk peningkatan berat badan dan mengurangi waktu rawat inap.
2. Pengaturan cahaya day/night cycled light (12 jam di siang hari dan 12 jam pada malam hari) sesuai dengan irama sirkardian menunjukkan efek positif peningkatan penambahan berat badan yang signifikan, peningkatan kadar melatonin, dan memperpendek LOS.
3. Pengaturan cahaya penting untuk diterapkan sampai dengan bayi pulang ke rumah, oleh karena itu perawat wajib menginformasikan kepada orang tua tentang day/night cycled light (CL).
4. Bayi prematur tidak memiliki kemampuan untuk mengatur diri sebaik bayi yang lebih tua, cahaya terang yang tiba-tiba dapat menyebabkan mereka menjadi terlalu terstimulasi dan menunda perkembangan ritme sirkadian mereka. Untuk itu dianjurkan untuk menggunakan lampu redup selama aktifitas menyusui dan mengganti popok pada malam hari.
5. Penggunaan masker tidur lebih baik dalam pengaturan cahaya dibandingkan penutup mata biasa.
6. Semakin gelap penutup inkubator semakin baik untuk pengaturan cahaya yang diterima oleh bayi.
7. Dalam studi lain para peneliti melaporkan bahwa intervensi termasuk kontak kulit ke kulit, terapi pijat dan lampu siklus menunjukkan efek yang baik pada tidur bayi di NICU.
8. Perawat memainkan peran penting dalam menerapkan strategi intervensi ini ke dalam perawatan neonatal.
REFERENSI
Anoop Rao, Preterm Baby Sleep Guide. https://www.cradlewise.com/blog/preterm-baby-sleep-guide/
Drager (2025) The Influence of Light on Premature Babies. https://www.draeger.com/en-us_us/Hospital/Influence-of-Light-NICU
HO, C.L (2025). Effects on Weight Gain and Length of Hospital Stay of Day and Night-Cycled Light Exposure in Premature Infants: A Meta-Analysis. The Journal of Nursing Research VOL. 33, NO. 5, OCTOBER 2025. DOI: https://doi.org/10.1097/jnr.0000000000000700
Jinhee Park (2022). Sleep Promotion For Preterm Infants in The NICU . Nursing for Women’s Health, Volume 24, Issue 1, Pages 24-35.
Rachmantiawan A. & Rodiani (2022). Persalinan Preterm pada Remaja. Journal Penelitian Perawat profesional. Volume 4 No 4 e-ISSN 2715-6885; p-ISSN 2714-9757. http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP
Yosuke K., Hidenobu O., Keita, M., Itaru H., Yutaka U., Takuma A., Akinori M., Machiko N., Yoshihisa O., Hisanori W., Naoki H., Hiroki S., Ryuichi S., Sei-ichi T., Shigekazu H., Miyuki S., Kazutoshi C., Hisanori M., (2016). Influence of light exposure at nighttime on sleep development and body growth of preterm infants. Scientific Reports
https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC4753683/pdf/srep21680.pdf